Our First Day..
Kriiiiiing.. jam wekerku berbunyi sangat nyaring, seolah-olah sanggup membangunkan seluruh penjuru kampung. Aku membuka mataku, menggeliat malas dan kemudian menguap. Masih jam lima pagi ya? Ah ya.. hari ini adalah hari pertama aku harus memenuhi janjiku pada mas Joan untuk membantunya mengajak Nero berjalan-jalan setiap pagi selama sebulan penuh, sementara mas Joan sedang dalam karantina untuk kejuaraan basket antar propinsi.
Nero itu jenis anjing kintamani yang baru berumur enam bulan, dibawa mas Joan beberapa minggu yang lalu dari rumah eyang Sasongko di Malang. Aku tidak begitu suka dengan anjing, karena menurutku mereka terlalu berisik. Aku lebih suka hewan peliharaan yang tidak mengeluarkan banyak suara, seperti ikan, kura-kura atau hamster.
Tapi aku juga tidak membenci Nero. Entahlah, mungkin dari semua anjing yang pernah aku temui, Nero ini tergolong anjing yang sopan. Selagi ada mas Joan atau aku atau bahkan mama dan papa, dia tidak pernah menggonggong pada orang asing yang datang ke rumah. Tapi matanya tidak pernah berhenti mengawasi orang asing itu, yang terlihat sangat jelas dari gerak-gerik tubuhnya.
Baiklah.. aku akan memulainya hari ini. Semoga menjadi hari yang indah untuk kita berdua ya, Nero. Hahaha.. malang benar nasibku! Di saat teman-temanku yang lain pergi jogging dengan kekasihnya, aku harus jogging dengan anjing.
Semenit kemudian aku berdiri dengan sedikit malas dan beranjak menuju lemari sepatu di sudut kamarku untuk mencari sepatu joggingku. Aku mengambil sepatu jogging berwarna hitam dengan strip merah yang mungkin sejak aku beli setahun yang lalu baru aku pakai dua kali saja. Aku tertawa mengingat mama yang protes berat saat aku merengek-rengek meminta sepatu seharga delapan ratus ribu rupiah itu.
“Paling-paling juga nggak akan kamu pakai, kan?”
“Pasti dipakai kok, ma! Beneran deh, Eicha janji bakal sering-sering jogging biar nggak gendut. Mama seneng kan kalo anak mama yang manis ini langsing?” bujukku dengan pandangan mata tidak pernah lepas dari sepatu jogging yang dipajang di SportStation itu. Mama memandangku, seolah-olah ingin memastikan kebenaran kata-kataku. Sedetik kemudian mama menghela napasnya, dan aku tertawa. Aku tahu aku berhasil membujuknya, dan mama menyerah. Aku menang!
“Awas ya, kalo nggak dipakai!” kata mama sebelum memanggil pramuniaga untuk mengambilkan nomor yang sesuai dengan kakiku. Jadilah aku membeli sepatu jogging itu dan seperti tebakan mama, sepatu itu memang jarang sekali aku pakai.
Aku memutuskan untuk memakai celana pendek abu-abu dengan t-shirt putih yang terlihat agak kebesaran untukku, dan tidak ketinggalan sepatu joging seharga delapan ratus ribu rupiah-ku. Kemudian menyambar tali kekang untuk nero
“Neroooooooooooo.. where are you?” panggilku setengah berteriak sambil menuruni tangga. Aku mendengar geraman Nero dari bawah tangga.
“Ternyata kamu di sini ya? Ayo.. kita jogging bareng pagi ini,” kataku sambil berjongkok untuk memasang tali kekangnya yang berwarna hitam. Nero membalasku dengan menggonggong sambil mengibaskan ekornya, dia terlihat bersemangat sekali mendengar kata-kata jogging.
Aku melongok di dapur dan melihat mama sedang sibuk dengan nasi gorengnya di atas wajan. Mamaku ini memang mama yang rajin sekali, subuh-subuh sudah bangun untuk menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Papa, mas Joan dan aku sangat menggemari masakan mama, bahkan kami jarang sekali makan di luar rumah karena masakan mama tidak kalah enaknya dengan masakan restoran.
“Ma, Eicha pergi jogging sama Nero ya?” kataku sambil mengendus bau nasi goreng yang tiba-tiba saja membuat perutku terasa lapar.
“Kamu nggak kuliah hari ini?”
“Kuliahku mulai jam sepuluh hari ini, Ma.”
“Ya sudah.. pergi sana!”
“Eicha pinjam sepedanya papa ya, Ma?”
“Katanya jogging, kok bawa sepeda?”
“Eicha kok tiba-tiba males lari-lari ya, Ma?”
“Dasar pemalas.. Yakin kamu bawa Nero jalan-jalan sambil naik sepeda? Tapi terserah kamu lah.. Rasanya sepeda papa di garasi, coba kamu lihat!”
“ Daaa, mama!”
Hawa dingin menyambutku saat aku membuka pintu depan. Oh My God, seperti inikah rasanya jogging di pagi hari? Nero menarik tali kekangnya seolah tidak sabar menungguku yang terpaku karena hawa dingin itu.
“Sabar ya, tuan raja.. mau ambil sepeda dulu,” kataku sambil menyeretnya ke garasi.
Pelan-pelan aku mengayuh sepedaku dan membiarkan Nero berlari-lari di sampingku. Hmmm.. rasanya menyenangkan juga ya! Mungkin aku harus menjadikan jogging ini sebagai kebiasaan baruku. Hidup sehat, makanan sehat dan aku pasti akan langsing dengan sendirinya. Aku bergumam dalam hati sambil meraba perutku yang agak berlemak, kemudian tertawa pelan membayangkan tumpukan lemak itu menghilang dalam beberapa minggu.
Dua kali putaran taman kompleks, itu targetku hari ini. Mas Joan sudah berpesan berkali-kali, Nero harus dibawa jalan-jalan minimal dua kali putaran taman kompleks. Dan targetku adalah jumlah minimal itu.
Taman kompleks itu tidak terlalu besar dan cukup ramai dipenuhi orang-orang yang juga sedang jogging. Aku berpapasan dengan bapak-bapak yang perutnya gendut dengan anak laki-lakinya yang juga bertubuh sehat. Anak laki-laki itu mengamati Nero dengan tampang ingin tahu dan bapak-bapak yang sepertinya adalah ayahnya itu tersenyum padaku.
Beberapa saat kemudian aku berpapasan dengan ibu-ibu muda yang sepertinya sedang hamil. Dia berjalan perlahan-lahan ditemani seorang laki-laki yang sepertinya adalah suaminya. Hmm.. romantisnya, kataku dalam hati. Ibu-ibu muda itu juga tersenyum padaku begitu menyadari bahwa aku sedang menatap mereka. Aku mengangguk sambil membalas senyumnya.
“Mamaaaaaaa… anjingnya lucu!”
Aku mendengar seorang anak perempuan berteriak dari belakangku. Dia berlari menghampiri Nero tanpa rasa takut sedikitpun. Celana pendek merah muda dan t-shirt sewarnanya kelihatan sedikit kotor bekas tanah, mungkin barusan jatuh.
“Dela, nggak boleh nakal ya? Nanti jatuh lagi..” kata seorang perempuan muda sambil berlari-lari kecil menyusul anaknya yang sekarang sudah berlari-lari di samping Nero. Aku cuma bisa tersenyum melihat pemandangan itu.
Rasanya sebulan bersama Nero bisa membuat aku mengenal semua penghuni kompleks perumahan yang tidak terlalu besar ini. Aku mulai menebarkan pandangan ingin tahu ke seluruh taman kompleks. Siapa tahu ada beberapa orang yang aku kenal, sehingga aku tidak perlu merasa asing di lingkunganku sendiri. Tapi aku tidak beruntung karena tidak melihat satu orang pun yang aku kenal. Jangan-jangan karena aku memang terlalu kuper?
Sudah satu putaran dan aku merasa t-shirt putihku basah oleh keringat di bagian punggung. Aku melihat Nero masih saja dengan asyik berlari-lari di sampingku sambil menjulurkan lidahnya dengan gembira. Heran aku melihat anjing yang tidak pernah terlihat lelah ini!
“Satu putaran lagi dan kita pulang ya..” kataku pelan. Aku mengayuh sepedaku lebih cepat sambil berharap satu putaran ini segera berakhir. Aku sudah cukup lelah dan haus, menyesal sekali tadi tidak membawa botol air minum. Aku paling tidak bisa menahan diri dari haus, dan bahkan bisa menghabiskan satu liter air dalam sekali minum dalam kondisi haus seperti saat ini. Aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lupa membawa botol air minum besok.
Hei.. hei.. kenapa anjing ini mendadak berlari tidak sesuai dengan irama kayuhan sepedaku? What’s going on?
Mendadak aku menyadari Nero sedang berusaha mengejar seekor kucing yang melintas di depannya. Aku mulai panik dan takut tidak bisa menguasai keseimbangan sepeda yang sedang aku naiki ini.
“Nero.. berhenti!” panggilku dengan nada yang sedikit memerintah.
Nero tidak menggubris kata-kataku dan tetap saja berlari bahkan lebih cepat. Aku berusaha mengimbagi kecepatan lari Nero sambil berusaha melepaskan tali kekang yang sedari tadi aku biarkan melilit di pergelangan tanganku.
Waaaaaa… Gubrak!! Terlambat sudah!
“Nerooooooooo..” aku berteriak sebelum lengan kiriku mencium paving taman kompleks yang keras dan dingin itu.
Entah bagaimana, Nero menghentikan pengejarannya setelah mendengaaku berteriak. Atau mungkin karena dia tidak bisa melepaskan diri dari tali kekangnya yang masih melilit di pergelangan tanganku? Entahlah, yang jelas dia berhenti dan menghampiriku, kemudian menjilat lenganku sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
Aku mendorong kepalanya dengan sebal dan melihat kiri kananku. Upppsss.. untung saja sepertinya tidak ada yang terlalu memperhatikan. Bisa-bisa aku malu seumur hidup!
Dengan segera aku bangkit setelah memeriksa lengan kiriku. Tidak terlalu parah, hanya goresan ringan saja. Aku membersihkan t-shirt putihku dari tanah yang menempel dan menyeret Nero pulang. Dan membayangkan apa yang akan dikatakan mama nanti mendengar cerita konyolku ini.
“Sudah mama bilang.. nggak usah pakai sepeda segala..”
Huaaa.. aku sudah bisa menerka apa yang akan dikatakannya. Dan mungkin akan ada acara tiga puluh menit bersama omelan mama. Meskipun aku tahu mama akan melakukannya sambil mengompres lukaku dengan alkohol, tetap saja aku jadi merasa enggan pulang karena pasti harus mendengar omelannya. Hehe.. sorry, mom!
“Ayo kita pulang.. kamu ini bikin aku malu saja!” kataku dengan sedikit marah. Dan sejurus kemudian aku tersenyum sendiri, karena merasa tidak waras sudah memarahi anjing kesayangan mas Joan ini. Namanya juga anjing..
Dalam hati aku mengingat-ingat apa yang harus aku lakukan untuk jogging sejam bersama Nero besok. Jangan lupa membawa botol minum dan tidak usah membawa sepeda! Oh ya satu lagi, sepertinya aku harus lebih peka terhadap kucing supaya aku bisa membawa Nero di rute jogging yang benar.
Sebelum berjalan pulang, aku memastikan sekali lagi bahwa tidak ada saksi mata yang melihat kejadian memalukan ini. Aku melihat ke arah depan, aman. Aku melihat ke arah kiri, aman. Aku melihat ke arah kanan, aman. Tapi upsss.. apakah dua orang cowok yang berdiri beberapa meter di belakangku itu melihat kejadian memalukan ini? Uh uh.. semoga saja tidak! Tapi sepertinya mereka sedang tersenyum ke arahku.. Atau cuma perasaanku saja?
Ah sudah lah.. masa bodo, apakah ada orang yang melihat atau tidak! Lagipula sudah terjadi, mau diapakan lagi? Walaupun aku memang jadi menyesal, kenapa tadi memutuskan untuk mmbawa Nero berjalan-jalan dengan naik sepeda. Aku menyadari kebodohanku dan tertawa sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala yang sedikit sakit karena mungkin terbentur paving saat aku terjatuh tadi. Ternyata bukan cuma lengan kiriku yang tergores..
Aku bergegas berjalan dan memutuskan untuk berjalan memutar supaya tidak perlu melewati kedua orang yang mungkin adalah saksi mata kebodohanku itu. Dan akhirnya sepanjang perjalanan pulang dari taman kompleks sampai ke rumah, aku terpaksa menuntun sepeda sambil menjaga tali kekang Nero. Nero sih.. cuek saja sambil berlari-lari kecil di depanku.
Dasar anjing! Hmm.. apakah aku mengumpat? Sepertinya tidak..
***
Pagi itu aku melihatnya. Aku mengenal cukup banyak orang yang sering jogging di taman kompleks, tapi sepertinya baru pagi ini aku melihatnya. Bagian belakang t-shirt putihnya sudah basah oleh keringat. Dan aku bisa mendengar napasnya yang terengah-engah saat dia melintas di sampingku dengan sepedanya. Mungkin dia sedang menjalani diet ketat, pikirku dalam hati sambil menahan tawa.
“Ngapain sih senyum-senyum sendiri?” tanya Toni yang sedang berlari-lari kecil di sampingku.
“Nggak.. Nggak ada apa-apa..” jawabku singkat sambil melakukan peregangan otot.
Beberapa menit kemudian aku kembali melihatnya melintas di sampingku. Kali ini sepertinya dia sedang cukup kerepotan dengan anjingnya yang mulai berlari-lari tidak seirama dengan laju sepeda yang sedang dikayuhnya.
“Nero.. berhenti!” panggilnya dengan keras dan galak. Anjing yang dipanggil Nero itu kelihatan tidak menggubris panggilannya. Sepertinya ada yang lebih menarik perhatian anjing itu daripada suara majikannya yang galak. Kucing! Aku melihat anjing itu sedang mengejar kucing, dan merasa bahwa sebentar lagi tamatlah riwayat majikannya yag galak itu.
“Nerooooooooo..” aku mendengarnya berteriak keras sebelum terguling ke arah kiri.
Tapi belum sempat aku menghampiri untuk menolongnya, dia sudah berdiri setelah mendorong kepala anjingnya yang sedang menjilat-jilat lengan kirinya. Aku melihatnya menoleh ke arahku dan Toni sebentar, kemudian menuntun sepedanya ke arah timur taman kompleks.
